Showing posts with label stay-at-home mom. Show all posts
Showing posts with label stay-at-home mom. Show all posts

Wednesday, October 19, 2016

Do I Lose Myself in Motherhood?






The answer is I don’t know. Maybe. I think many moms lose themselves in motherhood. Maybe I am one of them because I am slowly fading away from myself and my interest and my passion without even realizing that it is happening. I starting to realize just now but really maybe I am just a lazy person that use taking care of my kid as an excuse not to do more or at the end of the day it’s just exhausting to have what’s left of my energy to do what I like and opt for sleep, I don’t know. 


Motherhood is one long and tiring journey of changing diapers, feeding, and breastfeeding and on and on and on. I’ve just finished self-weaned my kid at 30 months and on the way to toilet training and separate sleeping. People would ask me why I haven’t toilet train my kid and the answer would be because I was lazy, I want the easy way of not having to wait my kid sit on the toilet or simply I don’t want to mop if he peed on the floor. Or why decide to separate sleeping so early because I want my bed back and my beauty sleep back. Motherhood means a lot of future homework. I overwhelmed.


When I was single or in my early years of marriage I used to love reading, listening music, writing my thoughts on my blog, writing poems and walking but simple things like that was a hard bargain to do anymore. Through the first and second years after my kid was born I was able to read books, lots of it, but in doing so I have to sacrifice my already limited-to sleep to nearly hanging by a thread. If I was reading a book I’d likely only sleep for 2 to 3 hours a day and it’ll run till the book finished and I have a habit to hardly put a book down once I read it. So they are days where I barely sleep and it affect my health, I was easily have asthma attack and skin allergic. Now, it’s been months since I enjoy reading. I’d like to write lots of things but in the end it’ll just end up in draft because I was suddenly blank or interrupted by the kid and those thoughts just fly by and never came back. And I haven’t walk in ages. 


Things I usually do slowly just nowhere in my agenda anymore. I love my kid and won’t trade anything with him but sometimes a really quality time with myself is just what I need. To me a mother is the world of the family and I believe a happy mother make a happy kid and husband thus a happy family. It’s important for a mother to be happy for what and where she is right now. 


Here’s ways I am gonna do to say Hi to myself again:


1.    Start to put myself in a daily and weekly agenda that will allow me to have some alone time
If I can make a daily time table for my kid to do surely I should be able to make one for me. Try to squeeze in an alone time for myself and make a quiet time for my kid so that he can play or read by himself. 

2.       Be Grateful
I gotta admit my level of gratefulness has been decreasing lately. Weak moments as I am overwhelmed by the task in my hands. Be happy with everything that I am today. 

3.      Start doing what I was doing when I was single like walking and swimming so I can think and clear my heads.


4.     Find new friends
To be honest I’ve been trying to do this but not always comfortable with the people I’ve met so far. But my aunt said to keep looking until you find the one you feel comfortable with. So that’s mean I have to keep looking. 

So Moms any of you have the same experience with me? I’d love to hear your stories. 


.cheers.

Monday, June 20, 2016

Me Vs Cooking

Tergelitik sama pertanyaan salah seorang sahabat waktu buka puasa kemarin: koq lo sering masak sih? Jawaban yang terlintas di kepala cuma: ga ada kerjaan lagi (secara saya stay-at-home mom) *ga bermaksud mendeskritkan sahm dengan ga ada kerjaan ya kerjaan rumah mah selalu ada. Dan sahabat saya bukan satu2nya orang yang terheran-heran dengan kesenangan saya memasak atau kebisaan saya memasak.

To be honest ga banyak yang tau kehidupan saya termasuk kecintaan saya terhadap masak (makanan dan kue). Mungkin banyak yang ga bakal percaya tapi this is the truth. Awalnya karena nenek saya berkecimpung di dunia perkateringan dan seluruh anak perempuannya termasuk mama saya mau ga mau suka ga suka jadi ikutan. Karena saya termasuk anak nene (anak yang dibesarkan oleh nene) saya banyak menghabiskan waktu dengan nene saya. Saya lupa tepatnya tapi semenjak SD kelas 5/6 saya sudah fasih memegang pisau dapur yang tajam dan fasih mengupas dan memotong wortel. Sejak SD itu pula saya sering keluar masuk pasar tradisional di pagi-pagi buta bersama nene saya atau bersama mama saya. Sahabat saya dulu adalah tukang ayam langganan mama di pasar yang setiap saya datang beliau selalu kasih saya uang Rp. 20.000,-  (20 tahun yang lalu uang segitu itu besaar). Di usia 10/11 tahun tu mama saya sudah mempercayakan saya ke pasar sendiri untuk memesan kebutuhan katering nene saya atau keperluan mama saya yang lain. Kebiasaan saya membantu nene atau mama saya berlangsung sampai saya sma jadi bisa dibayangkan 8 tahun ikut berjibaku di dapur. Jadi saya terbiasa bangun dari jam 3 pagi untuk ikut membantu lalu berangkat jam 5 pagi ke tempat nene saya berjualan dan berjualan sampai jam 12 lalu pulang dan membantu mama saya mencuci dan membersihkan peralatan memasak.

Saya sendiri kalau ditanya lebih fasih bikin kue daripada memasak makanan. Karena saya tumbuh melihat mama saya memasak kue dan nene saya memasak makanan. Tapi tugas saya banyak di kue daripada makanan. Sejak SD mencetak kue ketan dan kue lupis adalah tugas saya. Di SMP dan SMA saya sudah membuat klepon dan kue lapis pepe sendiri walau semua bahan sudah disediakan mama saya. Di kuliah saya jenuh dan hanya membantu jualan tante saya. Saya sendiri belum pernah belajar dari nol sama nene dan mama saya karena saat saya sudah cukup besar untuk memasak sendiri mama saya meninggal. Tapi memori karena sering melihat nene dan mama saya memasak makanan dan kue jadi memori yang seringkali saya ingat pada saya masak. Ga bisa dipungkiri bakat memasak mengalir deras di keluarga mama saya. Semua perempuan di keluarga mama saya bisa masak dan itu menurun ke cucu cucu perempuannya. Ya, saya dan sepupu saya suka memasak. Bahkan sepupu saya lebih berani dari saya karena sepupu saya berani menjual hasil masakannya. Sesuatu yang saya takuti sebenernya. Jadi ga ada cerita orang lain mencoba masakan saya kecuali suami, bapak dan adik2 saya.

Suatu waktu saya pernah berujar kepada om saya "om mau berkebun nih" lalu om saya menjawab "ga ada itu sejarahnya dikeluarga kita berkebun kalau masak iya". Tapi itu lah adanya darah memasak begitu kental di saya. Saya suka memasak saya menikmati bikin kue. Tapi jangan berharap saya jualan ya atau kasih tester. Saya pribadi meragukan kemampuan diri saya karena saya bukan orang yang bisa memasak pakai resep saya cenderung pakai feeling. Karena setiap kali saya memasak pakai resep hasilnya akan aneh sekali makanya saya ga pernah berani orang lain makan makanan saya karena takut beda selera. Saya sendiri penyuka clean taste yang artinya ga terlalu suka banyak bumbu. Saya suka rasa alami sayuran. Itu kenapa dalam hal bikin kue saya sering gagal. Bikin kue itu harup pakai resep dan precise sekali tapi yang terjadi saya sering pakai feeling jadi yang bisa merasakan eksperimen saya hanya orang2 terdekat saya saja. Saya sendiri baru rajin memasak ketika tinggal di rumah sendiri karena lebih bebas ya. Bisa kreasi apa aja yang di mau.

Karena dari kecil saya sudah berkecimpung di dunia permasakan katering dan jualan hal itu memberikan momok tersendiri buat saya sekarang. Karena saya tahu betul betapa lelahnya berjualan dibidang makanan, uangnya ok karena profitnya bisa 2x lipat tapi usaha yang dikeluarkan juga luar biasa. Makanya saya ga pernah mau diminta berjualan atau menjual makanan yang saya buat. Itu dan karena lahir dan besar dari keluarga yang sangaaat menyukai makanan saya punya standar tersendiri soal makan yang dijual.

Adanya kecintaan saya memasak makanan dan kue menular ke anak laki-laki saya. Dia begitu amat antusias setiap kali saya mencuci beras atau membuat kue seringkali saya justru dilarang untuk ikutan. Mungkin buat sebagian besar orang memasak itu masih tugasnya perempuan tapi bagi saya memasak itu universal. Saya teringat kata-kata Gordon Ramsay disalah satu acara dia berkata "saya tidak mengharuskan anak-anak saya untuk mengikuti jejak saya tapi anak-anak saya tetap harus bisa masak untuk dirinya sendiri" (kurang lebih seperti itu artinya). Makanya saya tidak pernah melarang anak saya untuk memasak bahkan dia punya mainan masak-masakan sendiri karena buat saya memasak itu sebuah proses bahwa apa yang kita makan itu adalah hasil dari proses yang panjang. Dari mulai proses menanam oleh petani kemudian dijual oleh pedagang sampai kita beli lalu diolah agar bisa kita makan. Proses yang harus dihargai jadi kita selalu bersyukur atas apa yang kita makan.

Ini bolu kukus hasil cetakan sang anak.

.Cheers.

Friday, May 27, 2016

Crazy, Tired and Bored Stay-at-home Mom

I've been wanting to write for so long but the writer block and the kid yes were a major excuse for me for not being able to write. It's been 26 months being a stay-at-home mom plus 7 months a stay-at-home wife. That's A LOT. And this is just the time I have no idea what I have to do. I've been suffering from major boredom like literally I hate my life. It's nice to have a husband and a kiddo but sometimes I just wanna say "enuff is a enuff". The responsibility the never ending chores the demand the constant things just left me there in a corner of a dark room and cry.

I looooove my kiddo but being a parent is damn hard. I don't always get a me time which I should've known there's no such thing as me time when u have a kid. If you argue taking a shit uninterupted is a me time well there's your me time but to me NO that's not a me time that's me doing my humanly business. I tried so haard to be excited of the day but the truth I dread it. I don't know if you can but I can't spend my time from 7 am to 7 pm playing kiddie toy and talking baby words, it's boring. So sometimes I let the kid watch TV or DVD or play with my phone then you got to read on Facebook from parenting experts the negative effects of children that got to spend time watching tv and gadget. I mean wth! It makes me questioning myself, my ability as a parent.
Some of you probably have sitter or grandparents to play or care with your kid but me, I did it all. An adult once said to me to not let my kid watch tv but I know for sure that person never have a taste of being a stay-at-home mom and have to deal with kid all day. Ooo please never talk if u never in my shoes or offer any help.

Being a tired stay-at-home mom affects your interaction with your spouse. Well, in my case it is. My husband always away for works and everytime he went home he just want to relax and have couple quality time. Little did he know that kind of quality time is a rare thing. He, too was faced with kiddo demand of attention and it took a lot of his time and energy so by the end of the day we were both tired and the first thing in my was bed and sleep. We talked about this how we unconsciously missing our younger age where less responsibilities less chores and more less and less. But then we got to remind each other that this is the new us. The new me. The new you. As a parents. A mother. A father.

When crazy, tired and bored stay-at-home mom phase hit me I will likely remembering my young wild and free me (though the wild me only a couple of people I allowed them to see 😄).  With less responsibilities less chores less cooking less crying more money more fun more free life. Till today I am still juggling how to balance of me as a mother a wife a partner and as myself which never easy but I hope someday I found the right formula that work for everybody but most of all work for me.

.cheers.

P.s. Don't get me wrong I love you both hubs and kiddo to the moon.. I won't trade you for anything well maybe for ice cream. 😛

Monday, October 26, 2015

(Pilihan) Menjadi Ibu Rumah Tangga

IMG_4356.JPG
Menjadi Ibu rumah tangga buat saya bukan sebuah pilihan tapi sebuah cita-cita. Cita-cita yang nampak kurang wah dibandingkan jawaban "jadi dokter, insinyur, dsb" pada saat saya kecil jadilah itu cita-cia yang saya pendam. Sekarang saat saya sudah menjadi seorang ibu menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan saya satu-satunya.

Dengan tidak mengecilkan peran ibu yang berkerja, ini alasan kenapa saya hanya punya pilihan menjadi ibu rumah tangga:

1. Doktrin ayah saya. Walaupun ayah saya bukan tipe yang menakutkan tetapi kata-kata ayah saya bagaikan ultimatum bagi saya. Kata-kata ayah saya simpel namun hingga hari ini masih jelas di ingatan saya, beliau hanya bilang satu kali saat saya baru hamil "Berhenti bekerja sekarang atau nanti. Kalau nanti jangan suka nitip anak ke ibu bapak atau mertua. Urus anak sendiri". Tapi saya paham benar maksud beliau, mengurus anak sesungguhnya kodrah seorang ibu di mata Islam sedangkan perempuan tidak harus bekerja.

2. Saya tidak bisa menitipkan anak saya ke orang tua atau mertua kalau bekerja. Sudah jelas sekali ayah saya tidak bisa menjaga bayi karena beliau laki-laki sedangkan ibu saya sudah meninggal dunia. Kondisi kesehatan mertua yang membuat saya tidak mungkin tega menitipkan anak saya. Mengurus anak sendiri cukup melelahkan saya tidak bisa membayangkan lelahnya orangtua/mertua saya jika saya menitipkan anak ke mereka. Saya belum kenal daycare saat itu tapi pilihan ini tidak mungkin kalaupun saya bekerja.

3. Kepribadian saya yang sulit percaya pada orang dan mudah cemas membuat saya mengurus anak sendiri adalah yang terbaik buat saya. Perbedaan cara mengurus anak antara orangtua/mertua/pengasuh menjadi ganjalan besar buat saya. Saya besar dan tumbuh di tangan nenek saya membuat saya paham betul apa dampaknya di masa depan.

4. It's in my core menjadi seorang ibu rumah tangga. Bahwa kodrah seorang ibu adalah mengurus anak. Buat saya, mengurus anak adalah ibadah. So no amount of money can replace that.
Menjadi ibu bekerja tidak mudah begitu pula dengan menjadi ibu rumah tangga. Setiap ibu selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk anaknya dengan melakukan yang terbaik bagi anaknya. Apa yang cocok untuk satu pribadi belum tentu cocok untuk yang lain.

Mungkin seringkali kita tanpa sadar merendahkan pilihan satu sama lain. Alangkah indahnya jika saling mendukung, saling menguatkan dan saling berbagi tanpa berpikir pilihan saya lebih baik dari yang lain.

So moms why you choose what you choose?

.Cheers.

Motherhood: "I am not that strong!"

IMG_4461.JPG
Pictures from here

Menjadi ibu rumah tangga itu ga mudah sama ga mudahnya jadi ibu yang juga bekerja. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kali ini mau sharing rasanya jadi ibu rumah tangga full time.

Saya jadi ibu rumah tangga full time sejak hamil 3 bulan. Selama hamil belum ada dukanya diem di rumah seharian. Malah saya sangat menikmati di rumah. Walau sebenarnya saya bukan orang yang suka keluar rumah tanpa urusan yang jelas walau itu sekedar window-shopping. Tapi semenjak melahirkan dan punya anak menjadi ibu rumah tangga full time jadi momok tersendiri buat saya. ( serem ya bahasanya huhuhhuhu)

Masa lalu saya membuat saya biasa melakukan ini itu sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi jangan pernah berharap saya bakal minta tolong selama apa yang harus dikerjakan bisa saya kerjakan sendiri. Bapak saya mengajarkan saya hal-hal yang juga laki-laki kerjakan jadi jangan heran kalau saya bisa ganti ban mobil sendiri ya. Ada masanya suami keenakan karena sampe urusan mengangkat galon air saja saya lakukan sendiri. So kalo saya minta tolong artinya saya udah bener-bener ga bisa. Which is sebenernya ga bagus juga....

Kalau perempuan lain setelah melahirkan di manjakan dengan berbagai bantuan dari sana sini saya justru seminggu setelah melahirkan sudah jeger (kata yang liat ya bukan kata saya) walau sambil menahan perih sisa-sisa jahitan. Dua minggu setelah melahirkan saya sudah mencuci baju, masak, setrika dan bebersih rumah sendiri. Bangga? Ga juga biasa aja. Mungkin di mata orang saya bisa terlihat hebat atau bisa juga terlihat sok kuat. Either way I don't care. Cuma didikan bapak saya untuk jangan pernah menyusahkan orang itu lekat sekali.

Pagi ini tetangga sebelah bilang "neng, hebat ya kuat ngerjain semuanya sendiri. Nyuci, nyetrika, masak, bebersih rumah." Kalau udah seperti ini rasanya senang sekali bahwa ada orang yang perhatian dengan apa yang saya lakukan. Walaupun apa yang saya lakukan tadi bukan karena saya punya banyak pilihan justru karena saya tidak punya banyak pilihan. Hidup secukupnya dari single-income itu tricky jadi saya sudah tidak bisa itu hura hura belanja sana sini tanpa tujuan dan bahkan hire ART.

Jadi saya harus mengerjakan segala keperluan suami dan anak dan rumah sendiri tanpa melupakan keperluan untuk saya sendiri. Jujur buat saya tantangan menjadi ibu rumah tangga yang full time ada di rumah itu bukan terletak di bosan stay di rumah. Justru memenuhi kebutuhan suami anak rumah dan tentu saya sendiri.

Adakalanya saya malas sekali lihat tumpukan cucian yang harus di cuci dan di setrika atau tumpukan cucian piring dan segala peralatan masak belum lagi si kecil yang sedang senang sekali mengeksplor segala barang di penjuru rumah. Atau si kecil yang sedang berenergi mengajak main atau saat si kecil tanpa henti menangis saat sakit. Saat-saat seperti itu rasanya saya cuma mau duduk diem pasang musik keras-keras lalu nangis tanpa ingat apa-apa. Tapi tetap saja ada anak kecil lucu itu yang saya ingat saat saya mulai menutup diri dan mengatur emosi. Itulah ya yang namanya ibadah. Buat saya lupa sama semuanya. Buat saya lebih ikhlas dan ikhlas lagi.

Saya ga selalu kuat dan hebat koq. Ada masanya saya benar-benar merasa saya hampir gila. Gila karena saya tidak punya lagi yang namanya me-time. Tapi saya coba untuk terus ambil napas panjang lalu hembuskan pelan-pelan lalu peluk anak kecil yang lucu lalu everything's all right.

.Cheers.

Belajar Menjadi Tidak Sempurna

Rumah berantakan, mainan berceceran, sisa makanan berjatuhan belum lagi tumpukan cucian piring yang menggunung atau tumpukan cucian baju yang harus dicuci dan disetrika.
Atau
Si kecil sedang senang belajar makan sendiri walau apa yang dimakan jauh lebih sedikit dari yang dibuang, coretan-coretan rasa ingin tahu anak di dinding rumah, sampul-sampul buku yang terkoyak saat si kecil ingin membaca buku.
Moms pasti pernah ya mengalami hal yang demikian dirumah dan dengan si kecil. Tapi itulah nikmatnya hidup ya moms, menemani perjalanan belajar si kecil yang luar biasa sambil terus beribadah mengurus rumah tangga :) Satu hal baru ni moms yang saya pelajari semenjak saya menjadi seorang ibu adalah belajar menjadi tidak sempurna. Berhubung saya OCD membuat saya menjadi orang yang perfeksionis. Segala sesuatu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar hasilnya sangaaaaaat maksimal (dan sangat rapih, sangat bersih, sangat terstruktur, sangat on-time).

Adanya kebiasaan itu harus saya buang jauh-jauh saat saya menjadi seorang ibu dan seorang full-time mom. Mempertahankan kebiasaan itu hanya akan buat saya stress sendiri. Awalnya susah memang ya tapi saya berusaha menerima batasan diri saya sendiri dan memaafkan diri saya. Saya selalu bilang pada diri saya sendiri "It's okay you're doing great. You don't have to do it all".

Saya yakin setiap moms pasti bisa menyelesaikan segala pekerjaan rumah sendiri sambil terus meluangkan waktu bermain dengan anak. Susah ya moms liat rumah berantakan sedikit maunya rapih aja tapi kalo kata iklan aja "berani kotor itu baik" mau gimana lagi ya ga? Hahhhahha

Maunya ya moms rumah bersih rapih tidak ada tumpukan cucian piring atau cucian baju atau baju yang harus disetrika. Tapi dalam pengerjaannya setiap hari tidak mungkin di lakukan sekaligus ada saja yang harus terhenti di tengah jalan karena si kecil mengajak main atau si kecil sedang manja. Belum lagi mainan si kecil yang berceceran atau tumpahan makanan kecil si kecil yang belum sempat dibersihkan sudah dimainkan lagi. Saya sendiri menyerah pada keadaan dan harus bisa kompromi dengan situasi yang ada. Jangan harap main kerumah saya siang-siang ruang tamu akan bersih mengkilap dan rapi yang ada hanya ceceran mainan dan buku-buku si kecil yang ada. Walau si kecil saya biasakan main di baby-box tapi sepertinya dia tidak bisa lihat sesuatu yang rapi (seperti mamanya :D), dulu saya sempat pusing tapi sekarang saya jauh lebih tidak peduli rumah berantakan karena saat malam dan si kecil sudah tidur saya bisa bersihkan dan rapihkan kembali.
IMG_4579-0.JPG
Si kecil sedang berbaik hati cuma sedikit yang berantakan
Perlu usaha dan kerelaan yang lebih memang ya tapi semua worth-it. Menjadi seorang ibu justru membuat saya menemukan saya-saya yang lain yang saya tidak pernah saya kira akan saya lakukan. Saya yang lebih sabar. Saya yang bisa menaklukan OCD saya. Saya yang tidak sempurna.

.Cheers.

Friday, October 9, 2015

Gagal Paham


Pergejolakan tentang stay-at-home moms sama working moms kayaknya ga pernah ada habisnya. Padahal kita sama lho sama-sama seorang ibu. Cuma kayaknya terlalu berlebihan aja ya kalo setiap orang ga bisa memahami pilihan yang diambil setiap ibu-ibu.

Saya sendiri a stay-at-home mom by a choice. Dari dulu sudah selalu berandai-andai menjadi ibu yang tinggal dirumah dan full ngurus anak alasannya karena saya sendiri inginnya seperti itu ditambah didukung keadaan yang tidak memungkinkan buat saya kerja. Saya ga ada orang yang bisa bantu saya nitipin anak jadi harus merasa beruntung ya yang ibu nya masih hidup bisa ikut bantu mengurus anak dan konsekuensi kalau saya bekerja saya punya banyak waktu dengan anak. Waktu itu saya kerja di Jakarta dan domisili di daerah sekitarnya yg mengharuskan saya setiap hari berangkat jam 6.30 pagi dan tiba dirumah 7.30 malam ga kebayang nitipin anak ke daycare atau art sampe jam segitu. Cuma kadang orang kan ga tau ya alasan kenapa kita memilih menjadi stay-at-home mom sama working mom.
Sempet kan ditanya kenapa ga kerja lagi. Terus dijawab karena ga mungkin lalu dilemparlah ke saya alasan cliche kalo sayang udah sekolah tinggi-tinggi ilmu nya ga dipake dan balik-balik ke dapur dan kalo kerja kan wawasan jadi luar dan bla bla bla. Somehow saya gagal paham pemikiran seperti ini. Hari gini wawasan bisa dipelajari dimana aja kapan aja dari mana aja dan dari siapa aja. Kalo seseorang itu wawasannya mandek itu balik lagi ke orangnya masing-masing kadang sekolah tinggi klo wawasannya sempit ditambah attitude yang buruk pelajaran sekolah itu berasa ga ada artinya.

Jadi stay-at-home mom bikin saya apresiasi kegigihan working moms. Mayoritas ibu-ibu kalo ditanya pastinya maunya dirumah aja karena bisa liat tumbuh kembang anak dan mengajarkan banyak hal kepada anak termasuk wawasan yang didapet waktu kuliah tinggi-tinggi iu ya. Cuma kadang keadaan seseorang berbeda dan itu ga bikin keadaan kita jauuuh lebih baik dari orang itu. Faktor finansial umumnya yang bikin ibu-ibu bekerja rela untuk meninggalkan anaknya dan diasuh oleh neneknya atau siapapun itu tapi apa itu mudah kan ga juga. Mereka punya mimpi untuk anak-anak mereka yang mungkin baru bisa terealisasi kalo mereka bekerja. Atau memang karena ibu tipe pekerja yang kalau dirumah jadi stress. Sah-sah aja. As long a mother and a wife happy that means happy life. 

Jadi kadang saya gagal paham kalo ada yang bilang sayang sekolah tinggi-tinggi jadi stay-at-home mom aja akan bikin wawasan mandek. Truth is ibu-ibu pintar ini yang sekolahnya tinggi-tinggi baik yang dirumah atau yang kerja ini yang nanti akan menghadirkan generasi-generasi selanjutnya yang lebih berkualitas. Atau mungkin yang berkata demikian tidak tahu bahwa perlu ilmu yang tinggi untuk mendidik anak yang berkualitas. Atau mungkin tidak pernah mendidik anak dengan ilmu. 

.Cheers.