Showing posts with label moms. Show all posts
Showing posts with label moms. Show all posts

Wednesday, October 19, 2016

Do I Lose Myself in Motherhood?






The answer is I don’t know. Maybe. I think many moms lose themselves in motherhood. Maybe I am one of them because I am slowly fading away from myself and my interest and my passion without even realizing that it is happening. I starting to realize just now but really maybe I am just a lazy person that use taking care of my kid as an excuse not to do more or at the end of the day it’s just exhausting to have what’s left of my energy to do what I like and opt for sleep, I don’t know. 


Motherhood is one long and tiring journey of changing diapers, feeding, and breastfeeding and on and on and on. I’ve just finished self-weaned my kid at 30 months and on the way to toilet training and separate sleeping. People would ask me why I haven’t toilet train my kid and the answer would be because I was lazy, I want the easy way of not having to wait my kid sit on the toilet or simply I don’t want to mop if he peed on the floor. Or why decide to separate sleeping so early because I want my bed back and my beauty sleep back. Motherhood means a lot of future homework. I overwhelmed.


When I was single or in my early years of marriage I used to love reading, listening music, writing my thoughts on my blog, writing poems and walking but simple things like that was a hard bargain to do anymore. Through the first and second years after my kid was born I was able to read books, lots of it, but in doing so I have to sacrifice my already limited-to sleep to nearly hanging by a thread. If I was reading a book I’d likely only sleep for 2 to 3 hours a day and it’ll run till the book finished and I have a habit to hardly put a book down once I read it. So they are days where I barely sleep and it affect my health, I was easily have asthma attack and skin allergic. Now, it’s been months since I enjoy reading. I’d like to write lots of things but in the end it’ll just end up in draft because I was suddenly blank or interrupted by the kid and those thoughts just fly by and never came back. And I haven’t walk in ages. 


Things I usually do slowly just nowhere in my agenda anymore. I love my kid and won’t trade anything with him but sometimes a really quality time with myself is just what I need. To me a mother is the world of the family and I believe a happy mother make a happy kid and husband thus a happy family. It’s important for a mother to be happy for what and where she is right now. 


Here’s ways I am gonna do to say Hi to myself again:


1.    Start to put myself in a daily and weekly agenda that will allow me to have some alone time
If I can make a daily time table for my kid to do surely I should be able to make one for me. Try to squeeze in an alone time for myself and make a quiet time for my kid so that he can play or read by himself. 

2.       Be Grateful
I gotta admit my level of gratefulness has been decreasing lately. Weak moments as I am overwhelmed by the task in my hands. Be happy with everything that I am today. 

3.      Start doing what I was doing when I was single like walking and swimming so I can think and clear my heads.


4.     Find new friends
To be honest I’ve been trying to do this but not always comfortable with the people I’ve met so far. But my aunt said to keep looking until you find the one you feel comfortable with. So that’s mean I have to keep looking. 

So Moms any of you have the same experience with me? I’d love to hear your stories. 


.cheers.

Saturday, January 16, 2016

Lose Yourself

Ini bukan lagunya Justin Bieber yeessss... Itu mah love yourself ya walaupun isi liriknya ga ada hubungannya dengan gimana cara mencintai diri sendiri.

Dua bulan lagi krucil masuk 2 tahun dan selama itu pula saya menjadi seorang ibu. Mungkin pengalamannya belum ada apa-apanya dibanding ibu-ibu lain yang anak-anaknya sudah besar. Tapi selama 2 tahun itu juga bikin sadar banyak hal. Jadi ibu rumah tangga yang dirumah aja itu ga gampang, yang ga kerja dan klo mau duit harus minta ke suami, yang mau dandan aja bingung soalnya cuma ke dapur aja, yang kerjaannya pake daster  lusuh kucel dan dekumel, yang bosen ngurusinnya cuma cucian piring baju dan ketemunya sama kotak dinding-dinding kamar dan rumah sambil seharian dengerin bahasa bayi.

Tapi bener deh belakangan ini lagi ngerasa kehilangan jati diri. Sebenernya apa sih jati diri? Itu loh yang kerja, bisa haha hihi di kantor, bisa kesana kemari abis kerja, bisa hang out waktu weekend, bisa bangun siang tiap weekend, yang bisa beli dan pake baju bagus tas dan sepatu bermerek, yang badannya langsing ga pake gurat2 strechmark. I feel like I lose myself when I become a mom seringnya saat bosan melanda hal-hal seperti itu yang dikangenin. Kangen bisa wangi bisa cantik dan itu bikin self-esteem menjunjung tinggi. Kangen bisa nulis blog setiap hari, bisa baca buku nonstop kalo buat saya. Tapi bener ga sih itu jati diri saya? Nope. Hal-hal kayak gitu buah dari kejenuhan berkutat hanya dirumah saja yang akhirnya bikin saya mikir it wasn't something that I'll do again if I want to. Sesungguhnya jati diri saya dulu seorang single yang happy. Dan sesunggunya jati diri saya sekarang adalah seorang ibu. And it's human for me to want to a period of time when everything was all about me. All those sacrifice will paid off in its time. It was just me having a weak moment.

Terlalu mikirin pendapat orang juga ga bagus apalagi kalo orangnya cuma bisa ngomong doang.. hehhehe.. now I am better.

How about you?

.cheers.

Being a Wife and Mom

I came across this article of Willow Smith ask her mother Jada Pinkett Smith on how hard is it being a wife and mom and make me thinking what I find in my 4 years becoming a wife and almost 2 year becoming a mom. Her answers makes me realize what I've been through and what's coming through.

Since I haven't had a little girl to ask me those kind of question or maybe never since I prefer son than daughter I'd like to see how am I gonna answer that. So here we come.

How hard is it being a wife and mom?

Ain't easy for sure but since I was the type of person who like to analyze everything puts me in advantage what to expect on being a wife and a mom even before I am one. It was hard at first for everything, being a wife and a mom, I cried a lot because I feel like I am alone which is true. Even though I went through a 9-years relationship with my husband and quite a lot know him didn't mean it was easy. A key to succesfull relationship is a communication. At that time even though we communicate it was not a communication that have a good result in the end. And it just wrong, imo. But those rocky road was our way to a more good communication. It took us 2 years of marriage to the place we are now. I could talk everything to him without being afraid if I am gonna hurt him or if it will made him angry and vice versa. But life itself was a rocky trip there will always a bump here and there.

To be truth I still can't believe if I am a mother. Having a kid not really on my life agenda there I said it. Simply because I didn't trust myself to be able to become one. But now I am a mother of one that change everything. It is true that once you have a kid your world changing. Most of your vocal point is your kid. The first year was the hardest, I think, because they depend a lot on me. And I believe that the second year and the years after that require different challange which is usually not easy. But there's million of mother in the world that knew how I feel. And therefore it gave me strength that I know I can do this. Love you kiddo.

So, what do you think? How hard is it being a wife and a mom for you?

.cheers.

Tuesday, December 29, 2015

Belajar dan Ajar

Menjadi orang tua membuat saya sadar bahwa saya harus kembali belajar. Belajar tentang banyak hal. Terutama diri sendiri dan anak. 

Banyak dari kita orang tua yang mengharapkan hal-hal tertentu dari sang anak tapi kita seringkali tidak sadar bahwa hal tersebut seringkali sulit kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak memberikan contoh. Setelah punya anak saya sadar bahwa pelajaran pertama anak datang dari orang tua. Dengan cara melihat merasakan dan kemudian mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Contoh, saya seringkali setelah selesai melakukan sesuatu seperti makan saya akan langsung menyapu lantai untuk membersihkan makanan sang anak yang terjatuh saat makan, sekarang anak saya berusaha menyapu makanan yang terjatuh setelah ia selesai makan. 

Kita seringkali berekspektasi lebih terhadap anak. Pintar, sopan, mandiri, sholeh/ah, rajin belajar, rajin ibadah, rapih, bersih, dst. Tapi sadarkah kita bahwa anak mencontoh apa yang orang tuanya lakukan. Agaknya tidak fair menyuruh anak ibadah tapi kita sendiri tidak pernah solat. Atau menyuruh anak membereskan mainan agar rapih tapi kita sendiri tidak pernah beberes. Hal-hal seperti ini yang membuat sadar menjadi orang tua membuat saya menjadi orang yang baru dengan belajar. Belajar sabar, belajar mengontrol emosi, belajar mandiri, belajar berani, dst.. karena saya sadar dengan saya belajar saya juga mengajari anak saya banyak hal. Tentang kehidupan. Tentang keseharian.

Saya bukan tipe orang tua yang sangat melindungi anak. Saya biarkan anak melakukan apa yang secara naluri ia ingin lakukan. Saya biarkan dia belajar dengan melihat dari samping dan membimbing saat diperlukan. Saya ajari anak lapar/haus jadi dia tahu arti lapar/haus dan arti makan/minum saat lapar/haus dan ini membuat anak saya tidak selalu makan/minum dan berhenti bila kenyang. Saya ajari anak lebih mandiri jadi dia bisa main sendiri tanpa harus bergantung dengan saya atau berjalan lebih hati-hati agar tidak tabrak sana sini. Saya berikan anak kepercayaan bahwa dia bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa harus ada bantuan orang lain. Saya support anak saat takut berlari atau melihat balon agar ia lebih berani bukan dengan melindungi dengan melarang berlari atau menyingkirkan balonnya. 

Saya sadar kita sebagai orang tua ingin selalu melindungi anak kita dari bahaya atau dari kesusahan atau dari rasa takut agar yang ia rasakan adalah kenikmatan atau rasa aman atau rasa nyaman tapi selama apakah kita bisa menjamin kalau kita hidup selamanya. Di luar sana ada banyak hal yang bisa membuat anak kita merasakan kesusahan atau ketidaknyamanan atau ketakutan dan kita tidak bisa selalu melindungi mereka kapan pun dan dimana pun. Kalau kata orang sunda nyaah dulang yang artinya sayang tapi menjerumuskan. Kita merasa harus melindungi agar anak kita selalu aman nyaman dan hidup nikmat sejatinya ajari mereka untuk lebih berani, lebih prihatin, lebih bersyukur. Karena suatu hari anak kita juga akan menjadi orang tua yang harus bisa melindungi anak-anaknya kelak. 

Belajar dan ajari sebelum kehidupan yang mengajari kita. 

.cheers.

Monday, October 26, 2015

Be Brave!



#LATEPOST#

baby1


Sebulan setelah saya mempunyai status baru, yakni seorang ibu, banyak hal yang saya pelajari and terutama saya sadari.

Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi istri yang bekerja atau ibu yang bekerja. Saya hanya tau dan ingin menjadi seorang istri dan seorang ibu karena saya banyak menyaksikan bagaimana beratnya menjadi ibu yang juga bekerja. Dahulu bekerja buat saya hanya untuk mengisi waktu karena saya tidak punya tujuan karir yang tinggi or so-called wanita karir. Ketika saya hamil dan kehamilan saya tidak mudah pada trimester awal saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan hanya menjadi seorang istri sambil menyiapkan diri menjadi seorang ibu.

Saya tidak pernah berpikir untuk akhirnya menjadi seorang ibu. Tumbuh dan besar dikelilingi banyak laki-laki di hidup saya membuat saya merasa seperti laki-laki. Man don't get pregnant right? So here I am stranded as a wife and a mother.

Saat kehamilan saya memasuki trimester ketiga saya mulai menghadapi banyak sekali kecemasan tentang bagaimana saya akan melahirkan dan bagaimana saya akan merawat a newborn baby. Banyak membaca dan bertanya tentang kehamilan dan merawat bayi sangat membantu pengetahuan saya tapi itu juga berarti bahwa kehamilan dan cara mengasuh tiap ibu berbeda dengan ibu yang lain.  Cerita-cerita itulah yang menginspirasi saya dan memberikan saya keyakinan bahwa saya dapat melakukan apa yang ibu-ibu lain lakukan terutama ketika saya harus melakukan semua sendiri.

So yeah that's what I do: be brave.

Saya melahirkan hanya berdua dengan suami tanpa embel-embel keluarga lain yang menunggu tapi justru saya sangat bersyukur. Momen berharga itu hanya milik kami berdua. Saat melahirkan itulah saya takjub dengan diri saya sendiri bahwa saya bisa. Every woman can!

Then the baby. Segala hal mengenai newborn baby sempat membuat saya takut. Pengalaman ini membuat saya harus langsung terjun ke medan perang dengan amunisi yang secukupnya dan itu sangat tidak saya dan tentu sangat menakutkan buat saya.

So saya memberanikan diri saya. I told myself to be brave! That I can do it by myself. From the beginning.

Ketidakmampuan saya untuk meminta bantuan orang lain untuk mengajarkan saya tentang bagaimana itu hamil, melahirkan dan mengurus bayi membuat saya harus berani. Banyak dari ibu-ibu yang dapat bantuan dari ibu sendiri maupun mertua. Tapi saya harus berjuang berdua bersama suami saja. Hal yang tadinya saya pikir saya tidak mampu tapi ternyata mampu juga.

So be brave!

.Cheers.

Resep MPASI: Abon Ayam Handmade

Si kecil akan menginjak 12 bulan dan sudah suka sekali makan nasi lembek. Di satu sisi saya harus lebih pintar dan variatif dalam membuat makanannya. Akhirnya setelah browsing sana sini saya putuskan untuk membuat abon ayam handmade. Resep ini sebenarnya untuk >12 bulan tapi saya modifikasi dan sesuaikan dengan keadaan si kecil.

Bahan:
200 gr daging ayam dada

Bumbu:
3 siung bawang putih
3 siung bawang merah
1/2 kemiri
Serai
Daun salam
2 sdm kecap manis
Garam dan gula

Cara membuat:
1. Kukus daging ayam kemudian suwir tipis. Saya suwir ayam cukup besar tapi akhirnya saya suwir-suwir lagi

IMG_4367.JPG
2. Haluskan bawang putih, bawang merah dan kemiri kemudian tumis hingga harum. Masukkan daun salam dan serai.

3. Masukkan ayam yang telah di suwir-suwir. Tambahkan kecap dan garam gula. Terus aduk dan gunakan api kecil.

Saya sendiri tidak pakai kecap sebanyak 2 sdm saya hanya pakai sedikit sekali untuk memberikan warna mengingat si kecil belum genap 1 tahun. Saya juga tidak menambahkan garam maupun gula. Moms juga tidak perlu menambahkan serai dan daun salam tapi bumbu masak ini membuat abon menjadi wangi.

Abon ayam yang saya buat kurang kering karena si kecil sudah teriak-teriak minta makan :)
Jangan lupa disimpan ditempat kedap udara dan langsung di santap ya :)

Selamat mencoba moms!
IMG_4368.JPG

Review: Ergo Baby Carrier

Gendongan bayi merupakan salah satu article peralatan bayi yang mom dan dad wajib punya. Bulan-bulan awal saat sang buah hati cepat bertambah berat badan membuat para mom and dad seringkali merasa cepat lelah saat menggendong buang hati. Kehadiran gendongan samping atau kain jarik memang sangat membantu dalam mengurangi pegal saat menggendong bayi terutama dalam waktu yang lama. Tapi sering kita temui kekurangan gendong samping atau kain jarik yaitu distribusi beban yang hanya sebelah atau satu bagian pundak saja alhasil pundak cepat lelah.

Saat ini bertebaran produk-produk gendongan yang kegunaannya sangat membantu mom and dad dalam menggendong buah hati. Dari sekian banyak model dan merek gendongan yang betebaran di pasaran kesukaan saya adalah Ergo Baby Carrier.

Fitur:
• Gendongan depan, belakang, dan samping
• Ergonomis bahkan untuk membawa yang sangat berat
• 100% katun dalam body gendongan untuk melembutkan tiap tepinya
• Gesper berkualitas tinggi yang telah diuji oleh SGS
• Desain ergonomis mendukung posisi duduk yang benar untuk pinggul bayi, panggul dan tulang belakang pengembangan
• Membawa bayi dari baru lahir (dengan infant insert) sampai berat bayi 20 kg
• Tali nilon berkualitas tinggi disesuaikan dengan warna gendongan
• 100% katun kanvas agar maksimal tahan lama
• Diperkuat dengan jahitan di semua persimpangan kain
• Terdapat EVA foam di ikat pinggang

Posisi anak duduk di gendongan bukan menggantung seperti gendongan lain jadi aman buat bayi, tidak akan ada masalah di selangkangannya sekalipun dipakai lama, jadi nyaman untuk Bunda, nyaman untuk bayi/anak.

Gendongan ini juga dilengkapi fitur kemudahan mengatur ukuran talinya, dan juga safety elastic di setiap bucklenya memastikan keamanan bayi/anak, jadi sekalipun jika bucklenya terbuka bayi/anak tidak akan jatuh.

Ada kantong kecil tempat menyimpan barang, ada topi yang bisa dipakai kalau bayi/anak kepanasan, mau menyusui dan kalau bayi/anak tidur, jadi kepalanya tidak perlu disangga, Bunda bisa bekerja dan beraktifitas dengan leluasa karena dua tangannya bebas.

Tiga hal yang paling saya senangi dari Ergo Baby Carrier adalah:
 1. Tersedia topi yang bisa digunakan saat menyusui jadi tidak perlu pakai nursing apron lagi
2. Distribusi berat badan anak yang tidak menyebabkan pegal apabila menggendong terlalu lama
3. Banyak di pakai artis Hollywood ;)
Yes, that's me lol
Picture from here

So mom and dad siapa tau artikel ini berguna saat bingung memilih gendongan bayi. Atau ada gendongan bayi yang jadi favorit mom and dad ?

.Cheers.

6 Bulan dan MPASI

#LATEPOST#

Per hari ini si kecil berusia 10 bulan dan saya sedang berkutat dengan masa bayi susah makan. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba si kecil susah sekali makan dan setiap hari pada jam makan adalah masa saya 'berperang' untuk membuat si kecil mau makan. Dua-tiga suap sudah ok selebih itu luar biasa usaha yang harus dikeluarkan untuk membuat si kecil membuka mulut. Untuk next post ya..

Saya teringat awal kali MPASI dan si kecil sangat lahap menyantap MPASI buatan saya terutama yang berbahan labu kuning. Sebulan sebelum memulai MPASI saya mulai banyak membaca apa yang perlu dan tidak, apa yang boleh dan tidak, apa yang harus dan tidak dilakukan saat MPASI sampai ada masa saya excited, takut, ribet dll. Setelah 4 bulan berlalu dan menilik kebelakang banyak sekali hal-hal yang moms tulis atau referensi lain dalam mempersiapkan MPASI yang saya terapkan.

Apa yang saya rasa diperlukan?
1. Panci khusus untuk merebus atau memasak bubur bayi boleh baru boleh tidak asal tidak ada bekas memasak rendang disana :D
2. Talenan baru. Kenapa karena mayoritas talenan yang kita punya dirumah sudah melewati banyak fase memasak yang luar biasa.
3. Feeding set. Mangkok, piring, gelas, sendok khusus bayi ya. Mau pakai yang model magmag monggo tapi dari awal si kecil saya biasakan minum langsung di gelas. Saya sempat tertarik botol sendok dan lainnya tapi tidak karena saya membiasakan anak makan selayaknya kita makan.
4. Tempat makan dan minum untuk travelling. Kalo ga suka ke-mall ga perlu punya banyak-banyak. Secukupnya saja.
Pisau, saringan, blender, steamer/kukusan mayoritas itu sudah jadi barang wajib di dapur kan ya moms?

Apa yang boleh dan tidak boleh?
Moms yang anaknya mau MPASI pasti sudah browsing sana sini atau beli buku ini itu untuk cari informasi apa yang boleh dan tidak boleh dimakan sesuai umurnya. Karena setiap bayi berbeda maka apa yang cocok buat bayi tersebut mungkin berbeda dengan yang lain. Tapi saya setuju penerapan sistem 4 hari tapi bisa ya kurang dari itu kalo tiba-tiba apa yang dimakan ga cocok.
Mau sayur dulu atau buah dulu atau mau serelia dulu monggo yang di rasa sreg saja oleh moms.
Mau disuapin atau pakai metode BLW (baby led-weaning) ya yang moms sreg saja kalo saya melihat bayi BLW "tidaaaaaaaaaaaakkkkk' :D mungkin kalau si kecil sudah lebih besar lagi akan saya coba untuk BLW.

Untuk menu MPASI dari sekian banyak resep-resep MPASI yang saya baca, browsing, download, in the end menu makan bayi tidak saya bedakan dengan apa yang saya masak hari itu untuk saya dan si ayah. Kenapa? Meringankan pekerjaan moms terutama SAHM yang juga dikejar deadline setrikaan. Menyamakan rasa, jadi apa yang dimakan moms akan masuk kan ya ke asi nah dari situ si kecil belajar rasa yang dia makan sama dengan yang moms makan terutama untuk yang picky eater mungkin ya. Si kecil kurang suka ikan karena saya jarang makan ikan tapi demi membiasakan si kecil suka ikan saya pun belajar lagi makan ikan. In the end, kita mau si kecil untuk bisa makan makanan keluarga.

Untuk waktu makan si kecil saya biasakan sudah 3 kali sehari dengan porsi kecil dengan catatan si kecil merasa lapar.

Dari sekian banyak informasi yang saya baca, berikut 2 ini yang sangat saya jadikan pedoman dalam memasak MPASI.
photo(1)
from duniasehat.net
photoSo moms yang lagi siap-siap mau memberi MPASI jangan dibawa ribet dibawa mengikuti insting kita sebagai mommies aja yaaaa. Semangat ya moms :)

.Cheers.

Motherhood: Being Selfless

IMG_0131.JPG

Pelajaran pertama setelah menjadi seorang ibu yang benar-benar menohok saya adalah menjadi ibu berarti: being selfless.

Artinya yang tak (bisa) mementingkan diri sendiri (saja).

Saya dan suami punya kesukaan makan dipinggiran atau yang terkenal di tenda-tenda. Sebulan setelah melahirkan saya dan suami merindukan kebiasaan makan di tenda jadilah suatu sore menjelang malam kami berangkat ke warung tenda. Tempat makan bertenda yang ditutup dengan terpal memungkinkan angin seliwar seliwer dan saat itu suasana hujan jadi bisa dibayangkan udara dingin yang ada. Karena saya dan si kecil merupakan satu paket jadilah dia pun ikut dengan saya dan suami makan di warung tenda. Saat itu saya sadar bahwa saya menjadi egois hanya karena ingin makan di warung tenda, saya mengorbankan kenyamanan si kecil. Sejak saat itu memilih tempat makan yang ramah lingkungan untuk anak menjadi prioritas saya dan suami. Walau artinya itu kami sudah hampir tidak pernah makan di warung tenda (pilihannya dibungkus dan dimakan dirumah).

Hal kecil seperti itu yang menyadarkan saya terutama sebagai seorang ibu bahwa perlu mengutamakan kenyamanan anak dalam segala hal termasuk itu waktu dan tempat kami akan makan atau pergi atau sekedar jalan-jalan.

Hal ini juga yang banyak buat saya sadar every mom need a me time. A time to be (a little) selfish. Buat saya being selfish artinya bisa makan dengan tenang dan tidak terburu-buru atau sekedar mandi dan luluran lebih lama atau hal-hal kecil dalam keseharian yang seringkali melakukannya dengan buru-buru sambil berjibaku mengurus keperluan si.

Being a mother means a lot to sacrifice. Emang si gak enak banget buat give up kebiasaan yang bisa kita lakukan sesuka hati saat masih sendiri. But you gotta do what you gotta do. Ga mungkin kan anak udah bangun terus kita masih pengen bangun sedikit lebih siang saat weekend. Atau saat suami menganugerahi no-cooking day you still have to cook terutama yang masih MPASI. Banyak makan sayur terutama katuk buat yang asinya pengen melimpah ruah atau minum jus pare (ada yang pernah? Me!). The list is endless...

Tapi itu nikmatnya menjadi ibu segala pengorbanan terbayar langsung saat lihat senyum si kecil, atau pelukan manjanya, atau saat si kecil melahap habis makanan buatan mom, atau saat si kecil tidur lelap. I admit, being a mom is hard but makes me happy.

Jadi para moms apa pelajaran pertama saat jadi ibu?

Motherhood: Life In Schedule

IMG_0112-0.JPG
Moms and dads pasti ngerasain perubahan setelah punya anak. Udah ga mungkin lagi ya bangun siang, ga masak, ga mandi, ga beberes dan sebagainya sebagainya. Punya anak artinya ada satu badan lagi yang jadi tanggung jawab moms and dads. Yang ga mungkin ga diurus kalo naga-naga males lagi keluar.

Sebenernya dari sebelum punya anak dan menikah saya sudah biasa hidup terjadwal. Setiap hari saya punya jadwal untuk apa-apa yang dikerjakan hari itu termasuk jadwal istirahat. Bedanya kalau dulu saya mau begadang nonton film atau baca buku atau sekedar bergaul dengan teman besok paginya saya bisa bangun lebih siang (dengan catatan setelah saya keluar rumah dan kost) kalau di rumah jangan harap saya bangun siang, ayah saya termasuk early-riser apapun alasannya dan beliau punya seribu cara buat bangunin anak-anaknya dengan cara yang menyebalkan. Kebiasaan ini yang berguna sekali buat saya setelah menikah dan punya anak.

Berhubung saya stay-at-home mom dan berjibaku tanpa bantuan ART saya musti pinter-pinter bagi waktu antara membersihkan rumah, mengurus anak dan waktu untuk diri sendiri.

Here's my daily schedule:

Jam 5-6: bangun pagi, solat subuh, langsung masuk dapur. To-do-list di dapur (secara berurutan dan multitasking) masak air buat bapaknya, persiapan masak makanan si kecil, masak makanan si kecil sambil persiapan masak makanan bapaknya, masak makanan bapaknya, masak air buat si kecil sambil persiapan masak makanan sendiri, masak makanan sendiri, cuci piring. Biasanya masak 5 dish buat 3 orang perlu waktu 30-45 menit.

Jam 6.30: memandikan si kecil, menyiapkan makan si kecil dan bapaknya.

Jam 7: makan pagi bersama

Jam 7.30: membersihkan kamar dan rumah. Minimal di sapu. Karena saya pengidap alergi rumah bersih bebas debu is a must.

Jam 8-10: bermain sama si kecil

Jam 10: mencuci dan menjemur baju, biasanya jam segini si kecil morning nap kalo lagi ga nyuci mamak ikutan tidur :)

Jam 12: makan siang

Jam 12.30-13.30: bermain sama si kecil

Jam 13.30-16.00: tidur siang

Jam 16.00-18.00: mandi sore, makan sore, jalan-jalan sore di komplek.

Jam 18.00-20.00: bermain sama si kecil

Jam 20.00: membuat persiapan besok pagi, setrika.

Jam 22.00-24.00: me time sekedar baca buku sampai tidur.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya ya apa tidak bosan dan lelah hidup dalam rutinitas seperti itu setiap hari. Namanya manusia pasti bosan dan lelah tapi selama ada weekend dimana bisa merayu suami supaya makan diluar dan ga masak semua no problem :D

Meluangkan banyak waktu bersama si kecil penting buat saya jadi dengan adanya jadwal seperti ini saya bisa memilah dan memilih waktu kapan saya harus meluangkan waktu bersama si kecil, mengurus rumah tangga dan waktu untuk diri sendiri. Seringkali juga saya dilanda perasaan malas but the show must go on saya ga bisa lagi egois ga masak buat si kecil atau tidak membersihkan rumah.

Share dong moms and dads gimana cara moms and dads membagi waktu supaya urusan rumah dan si kecil dan diri sendiri?

.Cheers.

Resep: Banana Puding Susu

Si kecil suka sekali pisang jadi untuk kali ini saya buat Banana Puding Susu sebagai cemilan setelah bangun morning nap.

Resep ini saya dapat dari artikel di facebook Baby Bar tetapi saya modifikasi lagi.

Bahan:
200ml susu asip/santan (saya pakai sufor)
10 gr tepung maizena
1 kuning telur
1 sdt mentega
1 pisang yang sudah matang

Cara membuat:
1. Campur setengah susu dengan tepung maizena dan kuning telur, kocok.
2. Masak sisa susu sampai mendidih kemudian masukan campuran susu+maizena+telur sampai mengental. Angkat lalu masukan mentega (atau bisa diganti mentega).
3. Potong dadu pisang kemudian campur dengan campuran susu yang telah disaring. Dinginkan. Dan siap disajikan.

Si kecil suka sekali puding banana susu ini, bangun tidur langsung dilahap semua. Pada saat pembuatan puding buatan saya agak encer setelah didinginkan mungkin karena tepung maizena yang saya campur kurang. Bagi yang menggunakan asip, memasak asip akan menghilangkan nutrisinya saran saya proses memasaknya bisa diganti dengan mengukus.

Selamat mencoba!
IMG_4365.JPG

Motherhood: "I am not that strong!"

IMG_4461.JPG
Pictures from here

Menjadi ibu rumah tangga itu ga mudah sama ga mudahnya jadi ibu yang juga bekerja. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kali ini mau sharing rasanya jadi ibu rumah tangga full time.

Saya jadi ibu rumah tangga full time sejak hamil 3 bulan. Selama hamil belum ada dukanya diem di rumah seharian. Malah saya sangat menikmati di rumah. Walau sebenarnya saya bukan orang yang suka keluar rumah tanpa urusan yang jelas walau itu sekedar window-shopping. Tapi semenjak melahirkan dan punya anak menjadi ibu rumah tangga full time jadi momok tersendiri buat saya. ( serem ya bahasanya huhuhhuhu)

Masa lalu saya membuat saya biasa melakukan ini itu sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi jangan pernah berharap saya bakal minta tolong selama apa yang harus dikerjakan bisa saya kerjakan sendiri. Bapak saya mengajarkan saya hal-hal yang juga laki-laki kerjakan jadi jangan heran kalau saya bisa ganti ban mobil sendiri ya. Ada masanya suami keenakan karena sampe urusan mengangkat galon air saja saya lakukan sendiri. So kalo saya minta tolong artinya saya udah bener-bener ga bisa. Which is sebenernya ga bagus juga....

Kalau perempuan lain setelah melahirkan di manjakan dengan berbagai bantuan dari sana sini saya justru seminggu setelah melahirkan sudah jeger (kata yang liat ya bukan kata saya) walau sambil menahan perih sisa-sisa jahitan. Dua minggu setelah melahirkan saya sudah mencuci baju, masak, setrika dan bebersih rumah sendiri. Bangga? Ga juga biasa aja. Mungkin di mata orang saya bisa terlihat hebat atau bisa juga terlihat sok kuat. Either way I don't care. Cuma didikan bapak saya untuk jangan pernah menyusahkan orang itu lekat sekali.

Pagi ini tetangga sebelah bilang "neng, hebat ya kuat ngerjain semuanya sendiri. Nyuci, nyetrika, masak, bebersih rumah." Kalau udah seperti ini rasanya senang sekali bahwa ada orang yang perhatian dengan apa yang saya lakukan. Walaupun apa yang saya lakukan tadi bukan karena saya punya banyak pilihan justru karena saya tidak punya banyak pilihan. Hidup secukupnya dari single-income itu tricky jadi saya sudah tidak bisa itu hura hura belanja sana sini tanpa tujuan dan bahkan hire ART.

Jadi saya harus mengerjakan segala keperluan suami dan anak dan rumah sendiri tanpa melupakan keperluan untuk saya sendiri. Jujur buat saya tantangan menjadi ibu rumah tangga yang full time ada di rumah itu bukan terletak di bosan stay di rumah. Justru memenuhi kebutuhan suami anak rumah dan tentu saya sendiri.

Adakalanya saya malas sekali lihat tumpukan cucian yang harus di cuci dan di setrika atau tumpukan cucian piring dan segala peralatan masak belum lagi si kecil yang sedang senang sekali mengeksplor segala barang di penjuru rumah. Atau si kecil yang sedang berenergi mengajak main atau saat si kecil tanpa henti menangis saat sakit. Saat-saat seperti itu rasanya saya cuma mau duduk diem pasang musik keras-keras lalu nangis tanpa ingat apa-apa. Tapi tetap saja ada anak kecil lucu itu yang saya ingat saat saya mulai menutup diri dan mengatur emosi. Itulah ya yang namanya ibadah. Buat saya lupa sama semuanya. Buat saya lebih ikhlas dan ikhlas lagi.

Saya ga selalu kuat dan hebat koq. Ada masanya saya benar-benar merasa saya hampir gila. Gila karena saya tidak punya lagi yang namanya me-time. Tapi saya coba untuk terus ambil napas panjang lalu hembuskan pelan-pelan lalu peluk anak kecil yang lucu lalu everything's all right.

.Cheers.

Stress Pasca Melahirkan

IMG_4574.PNG
Picture from here

Jaman sekarang itu banyak ya moms yang terkena stress pasca melahirkan. Ternyata stress pasca melahirkan itu bukan cuma baby blues lho. Menurut American Pregnancy Association baby blues itu bentuk stress pasca melahirkan yang paling tidak berbahaya. Ada juga postpartum depression (PPD) dan postpartum psychosis (PPP). Saya sendiri mengalami stress pasca melahirkan selama 3 bulan pertama jadi sebenernya ga termasuk ke baby blues ya lebih ke depresi pasca melahirkan. Simply because I am not happy at all.

To be honest, stress pasca melahirkan yang saya alami bukan karena kurang tidur, atau pusing mendengar anak menangis, atau kurang makan, atau sakit saat menyusui, atau lelah, atau apapun yang berhubungan dengan saya, bayi dan merawat bayi. Buat saya stress pasca melahirkan terjadi justru karena banyak mendengar masukan-masukan orang lain tentang apa yang boleh dan tidak boleh saat merawat bayi dan banyaknya kunjungan orang yang ingin memberi selamat. Bukan tidak menghargai tapi gimana ya caranya saya mau istirahat kalau banyak kunjungan terutama dari orang-orang yang saya tidak terlalu kenal.

Saya orang yang sangat menyukai space, freedom and privacy. Artinya berikan saya ruang untuk menjadi seorang ibu baru yang bebas merawat anaknya dengan caranya sendiri. Saya tipe yang sedia amunisi sebelum berperang jadi sebelum saya melahirkan anak saya, saya sudah siap amunisi bagaimana merawat bayi dan terutama mental untuk merawat bayi sendiri. Jadi mendengar begitu banyak masukan ini dan itu dan kewajiban tampil saat dijenguk banyak orang itu jadi momok yang justru bikin saya stress. Padahal ibu menyusui itu perlu bahagia ya....

Masukan-masukan yang mengingatkan untuk selalu tidur, selalu makan, minum jamu, pakai stagen, jalan pelan-pelan, bayi jangan digendong terus itu membuat saya stress dan tertekan. Saya paham sekali mereka yang bicara seperti itu ingin memberikan perhatian kepada saya, perhatian yang bentuknya kurang pas buat saya. Perhatian yang pas buat saya itu let me do things in my own way and in my pace and in silence. Tapi saat itu bukan perhatian mereka yang saya rasa tapi justru pikiran negatif bahwa mereka tidak sedang memperhatikan saya they just care about the baby. 

Seriously, saya stress pasca melahirkan tanpa ada yang tahu kecuali suami saya. Sampai di titik saya benar-benar ga pengen ketemu orang sama sekali. Ibu menyusui perlu selalu bahagia agar produksi asinya lancar ironis memang buat saya, saat saya berusaha bahagia justru orang lain yang menghancurkan kebahagiaan saya.

Perjuangan untuk keluar dari stres pasca melahirkan itu ga mudah but I have my way. Saya mungkin terlihat lebih tertutup karena hal ini tapi itu justru jalan penyelamat saya dari stress yang berkepanjangan. Banyak tarik nafas dalam-dalam, lihat anak, ibadah, baca buku, manja ke suami dan menjauhi orang-orang sementara waktu itu cara saya menyembuhkan diri saya sendiri.

Setiap moms pasti punya sebab yang menyebabkan stress pasca melahirkan yang berbeda pula dan cara penanggulangan yang berbeda pula tapi moms kalau boleh bicara sama suami atau keluarga untuk pertolongan pertama. Stay happy ya mom...

.Cheers.

Saya dan Mitos Merawat Bayi

IMG_1505-0.JPG

Menjadi ibu pasti jadi tantangan tersendiri terutama bagi first-time mom terutama Apa yang boleh dan ga boleh. Sebelum melahirkan saya banyak membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan seputar merawat bayi dan mitos-mitosnya yang seringkali buat saya ga masuk akal.

*Membedong bayi
Suka kan ya dengar alasan orang tua jaman dulu kalau dengan di bedong itu kaki bayi akan lurus dan tidak bengkok. Faktanya kaki bayi memang terlahir bengkok (bukan bengkok kali ya lebih seperti kaki katak) dan akan lurus seiringan dengan bertambahnya umur dan kemampuan berjalan. Saya sendiri membedong bayi saya selama dua minggu pertama saja dengan alasan membedong bayi membuat bayi tenang karena dapat memberikan kehangatan.

*Memakai gurita
Alasan pemakaian gurita pada bayi untuk mencegah perut kembung padahal setelah lahir bayi masih bernafas lewat perut. Penggunaan gurita dapat menyebabkan organ dalam tubuh bayi bisa kekurangan oksigen. Saya sendiri tidak memakaikan gurita karena ribet si ya.... :)

*Pemakaian Baby walker
Alasan pemakaian baby walker supaya anak cepat bisa berjalan. Saya sendiri menggunakan baby walker hanya karena merasa terbantu karena si Kecil anteng dan bisa ditinggal melakukan pekerjaan lain. Saya hanya menggunakan baby walker selama dua bulan karena fakta saat anak didudukkan di baby walker dia hanya akan belajar duduk dan bergerak kemana pun dengan bantuan roda, sementara tubuhnya tidak akan belajar tegak. Hal ini terjadi pada anak saya maka untuk belajar berjalan saya berikan stimulasi lain dengan mengejar bola.

*Ibu dan bayinya tak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.
Sebenarnya ga ada keharusan seperti ini ya. Secara logis karena daya tahan tubuh bayi masih sangat lemah saat usianya di bawah 40 hari. Jadi kalau harus ikut jalan-jalan ke mall berjam-jam ya kasian karena banyak virus dan bakteri yang bertebaran. Saya sendiri keluar rumah dengan membawa bayi saat bayi saya 3 minggu itupun hanya ke restoran makan sebentar lalu pulang.

*Tangan dan kaki bayi harus selalu ditutup dengan sarung tangan/kaki.
Saya sendiri kurang paham kenapa bayi harus selalu pakai sarung tangan dan kaki. Saya hanya mengenakan sarung tangan selama kuku bayi belum digunting dan jika udara dingin selain itu saya tidak pakai karena Indonesia beriklim tropis dan panas dan pemakaian sarung dapat mengurangi perkembangan indera perasa pada bayi.

*Bayi bau tangan.
Vonis kejam dan yang paling menyebalkan adalah "bayi jangan keseringan digendong, nanti jadi manja dan bau tangan”. Apalagi orang yang ngomong juga ternyata suka menggendong anaknya.
Sebenernya saya tidak pernah percaya istilah bau tangan. Bau bawang bau terasi iya saya percaya tapi bau tangan? Ga. Here's why: bayi cuma tau satu cara berkomunikasi dengan menangis. Dengan alasan yang beragam dari mulai lapar haus sakit perut bosan ingin main kangen ibu kangen ayah sakit tidak nyaman atau sekedar bermanja-manja hanya si bayi yang tahu. Jadi di gendong itu ibarat dipeluk bagi kita orang dewasa, rasanya nyaman kan kalau setelah dipeluk? Itu juga yang dirasakan bayi saat digendong: kenyamanan. Tapi bukan berarti semua tangisan bayi bisa berarti minta gendong. Untuk menyiasatinya diperlukan keahlian orang tua untuk selalu menghibur dan membuat nyaman anak tanpa digendong :) Selalu ingat bahwa anak tidak akan selamanya suka digendong.

*Penggunaan Empeng Tidak Baik.
Biasanya bayi berusia kurang dari 1 tahun masih dalam fase oral.
American Academy of Pediatrics menyarankan penggunaan empeng daripada membiarkan bayi menghisap jempol karena menghisap jempol lebih memungkinkan pertumbuhan gigi bayi menjadi tonggos serta jempol tidak selalu bersih. Saya sendiri telat menyadari bahwa anak saya punya refleks menghisap yang buanyak dan memungkinkan pemberian empeng daripada mengempeng di PD ibunya yang selama ini terjadi dan membatasi ruang gerak saya. Intinya selama pemberian empeng tidak berlebihan dan tidak terus menerus tidak ada salahnya memberikan kenyamanan pada si bayi lewat empeng. Diperlukan kebijaksanaan orangtua mengenai kapan dan berapa lamanya penggunaan empeng.

Sekian dulu ya moms di lain waktu dibahas mitos-mitos lain dalam merawat bayi. Stay positif dan jangan gampang panik ya moms :)

.Cheers.

Resep MPASI: Kentang Panggang Daging Giling

Halo moms,

Kali ini mau berbagi resep MPASI bisa untuk 8 bulan ke atas ya tapi berhubung anak sayang sudah 13 bulan jadi saya buat kasar dan tidak halus.

IMG_5104.JPG

Bahan:
4 buah kentang ukuran sedang
2 siung bawang putih
1/4 siung bawang bombay
100gr daging giling
200ml susu cair (saya pakai sufor)
1 butir telur
100gr keju parut
Lada (saya lupa pakai)
Unsalted butter
Cara memasak:
1. Kukus/rebus kentang sampai empuk
2. Sambil menunggu kentang empuk, tumis bawang putih dan bawang bombay kemudian masukkan daging giling sampai berubah warna
3. Masukkan susu cair, telur dan keju. Masak hingga mendidih dan mengental
4. Siapkan wadah tahan panas. Potong kentang lalu susun dalam wadah tahan panas. Lalu tuangkan campuran daging giling tadi.
5. Panggang dalam oven 180 selama 20 menit.
Untuk 3 porsi

Selamat mencoba ya moms.

Belajar Menjadi Tidak Sempurna

Rumah berantakan, mainan berceceran, sisa makanan berjatuhan belum lagi tumpukan cucian piring yang menggunung atau tumpukan cucian baju yang harus dicuci dan disetrika.
Atau
Si kecil sedang senang belajar makan sendiri walau apa yang dimakan jauh lebih sedikit dari yang dibuang, coretan-coretan rasa ingin tahu anak di dinding rumah, sampul-sampul buku yang terkoyak saat si kecil ingin membaca buku.
Moms pasti pernah ya mengalami hal yang demikian dirumah dan dengan si kecil. Tapi itulah nikmatnya hidup ya moms, menemani perjalanan belajar si kecil yang luar biasa sambil terus beribadah mengurus rumah tangga :) Satu hal baru ni moms yang saya pelajari semenjak saya menjadi seorang ibu adalah belajar menjadi tidak sempurna. Berhubung saya OCD membuat saya menjadi orang yang perfeksionis. Segala sesuatu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar hasilnya sangaaaaaat maksimal (dan sangat rapih, sangat bersih, sangat terstruktur, sangat on-time).

Adanya kebiasaan itu harus saya buang jauh-jauh saat saya menjadi seorang ibu dan seorang full-time mom. Mempertahankan kebiasaan itu hanya akan buat saya stress sendiri. Awalnya susah memang ya tapi saya berusaha menerima batasan diri saya sendiri dan memaafkan diri saya. Saya selalu bilang pada diri saya sendiri "It's okay you're doing great. You don't have to do it all".

Saya yakin setiap moms pasti bisa menyelesaikan segala pekerjaan rumah sendiri sambil terus meluangkan waktu bermain dengan anak. Susah ya moms liat rumah berantakan sedikit maunya rapih aja tapi kalo kata iklan aja "berani kotor itu baik" mau gimana lagi ya ga? Hahhhahha

Maunya ya moms rumah bersih rapih tidak ada tumpukan cucian piring atau cucian baju atau baju yang harus disetrika. Tapi dalam pengerjaannya setiap hari tidak mungkin di lakukan sekaligus ada saja yang harus terhenti di tengah jalan karena si kecil mengajak main atau si kecil sedang manja. Belum lagi mainan si kecil yang berceceran atau tumpahan makanan kecil si kecil yang belum sempat dibersihkan sudah dimainkan lagi. Saya sendiri menyerah pada keadaan dan harus bisa kompromi dengan situasi yang ada. Jangan harap main kerumah saya siang-siang ruang tamu akan bersih mengkilap dan rapi yang ada hanya ceceran mainan dan buku-buku si kecil yang ada. Walau si kecil saya biasakan main di baby-box tapi sepertinya dia tidak bisa lihat sesuatu yang rapi (seperti mamanya :D), dulu saya sempat pusing tapi sekarang saya jauh lebih tidak peduli rumah berantakan karena saat malam dan si kecil sudah tidur saya bisa bersihkan dan rapihkan kembali.
IMG_4579-0.JPG
Si kecil sedang berbaik hati cuma sedikit yang berantakan
Perlu usaha dan kerelaan yang lebih memang ya tapi semua worth-it. Menjadi seorang ibu justru membuat saya menemukan saya-saya yang lain yang saya tidak pernah saya kira akan saya lakukan. Saya yang lebih sabar. Saya yang bisa menaklukan OCD saya. Saya yang tidak sempurna.

.Cheers.