Monday, October 26, 2015

Saya dan Mitos Merawat Bayi

IMG_1505-0.JPG

Menjadi ibu pasti jadi tantangan tersendiri terutama bagi first-time mom terutama Apa yang boleh dan ga boleh. Sebelum melahirkan saya banyak membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan seputar merawat bayi dan mitos-mitosnya yang seringkali buat saya ga masuk akal.

*Membedong bayi
Suka kan ya dengar alasan orang tua jaman dulu kalau dengan di bedong itu kaki bayi akan lurus dan tidak bengkok. Faktanya kaki bayi memang terlahir bengkok (bukan bengkok kali ya lebih seperti kaki katak) dan akan lurus seiringan dengan bertambahnya umur dan kemampuan berjalan. Saya sendiri membedong bayi saya selama dua minggu pertama saja dengan alasan membedong bayi membuat bayi tenang karena dapat memberikan kehangatan.

*Memakai gurita
Alasan pemakaian gurita pada bayi untuk mencegah perut kembung padahal setelah lahir bayi masih bernafas lewat perut. Penggunaan gurita dapat menyebabkan organ dalam tubuh bayi bisa kekurangan oksigen. Saya sendiri tidak memakaikan gurita karena ribet si ya.... :)

*Pemakaian Baby walker
Alasan pemakaian baby walker supaya anak cepat bisa berjalan. Saya sendiri menggunakan baby walker hanya karena merasa terbantu karena si Kecil anteng dan bisa ditinggal melakukan pekerjaan lain. Saya hanya menggunakan baby walker selama dua bulan karena fakta saat anak didudukkan di baby walker dia hanya akan belajar duduk dan bergerak kemana pun dengan bantuan roda, sementara tubuhnya tidak akan belajar tegak. Hal ini terjadi pada anak saya maka untuk belajar berjalan saya berikan stimulasi lain dengan mengejar bola.

*Ibu dan bayinya tak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.
Sebenarnya ga ada keharusan seperti ini ya. Secara logis karena daya tahan tubuh bayi masih sangat lemah saat usianya di bawah 40 hari. Jadi kalau harus ikut jalan-jalan ke mall berjam-jam ya kasian karena banyak virus dan bakteri yang bertebaran. Saya sendiri keluar rumah dengan membawa bayi saat bayi saya 3 minggu itupun hanya ke restoran makan sebentar lalu pulang.

*Tangan dan kaki bayi harus selalu ditutup dengan sarung tangan/kaki.
Saya sendiri kurang paham kenapa bayi harus selalu pakai sarung tangan dan kaki. Saya hanya mengenakan sarung tangan selama kuku bayi belum digunting dan jika udara dingin selain itu saya tidak pakai karena Indonesia beriklim tropis dan panas dan pemakaian sarung dapat mengurangi perkembangan indera perasa pada bayi.

*Bayi bau tangan.
Vonis kejam dan yang paling menyebalkan adalah "bayi jangan keseringan digendong, nanti jadi manja dan bau tangan”. Apalagi orang yang ngomong juga ternyata suka menggendong anaknya.
Sebenernya saya tidak pernah percaya istilah bau tangan. Bau bawang bau terasi iya saya percaya tapi bau tangan? Ga. Here's why: bayi cuma tau satu cara berkomunikasi dengan menangis. Dengan alasan yang beragam dari mulai lapar haus sakit perut bosan ingin main kangen ibu kangen ayah sakit tidak nyaman atau sekedar bermanja-manja hanya si bayi yang tahu. Jadi di gendong itu ibarat dipeluk bagi kita orang dewasa, rasanya nyaman kan kalau setelah dipeluk? Itu juga yang dirasakan bayi saat digendong: kenyamanan. Tapi bukan berarti semua tangisan bayi bisa berarti minta gendong. Untuk menyiasatinya diperlukan keahlian orang tua untuk selalu menghibur dan membuat nyaman anak tanpa digendong :) Selalu ingat bahwa anak tidak akan selamanya suka digendong.

*Penggunaan Empeng Tidak Baik.
Biasanya bayi berusia kurang dari 1 tahun masih dalam fase oral.
American Academy of Pediatrics menyarankan penggunaan empeng daripada membiarkan bayi menghisap jempol karena menghisap jempol lebih memungkinkan pertumbuhan gigi bayi menjadi tonggos serta jempol tidak selalu bersih. Saya sendiri telat menyadari bahwa anak saya punya refleks menghisap yang buanyak dan memungkinkan pemberian empeng daripada mengempeng di PD ibunya yang selama ini terjadi dan membatasi ruang gerak saya. Intinya selama pemberian empeng tidak berlebihan dan tidak terus menerus tidak ada salahnya memberikan kenyamanan pada si bayi lewat empeng. Diperlukan kebijaksanaan orangtua mengenai kapan dan berapa lamanya penggunaan empeng.

Sekian dulu ya moms di lain waktu dibahas mitos-mitos lain dalam merawat bayi. Stay positif dan jangan gampang panik ya moms :)

.Cheers.

Resep MPASI: Kentang Panggang Daging Giling

Halo moms,

Kali ini mau berbagi resep MPASI bisa untuk 8 bulan ke atas ya tapi berhubung anak sayang sudah 13 bulan jadi saya buat kasar dan tidak halus.

IMG_5104.JPG

Bahan:
4 buah kentang ukuran sedang
2 siung bawang putih
1/4 siung bawang bombay
100gr daging giling
200ml susu cair (saya pakai sufor)
1 butir telur
100gr keju parut
Lada (saya lupa pakai)
Unsalted butter
Cara memasak:
1. Kukus/rebus kentang sampai empuk
2. Sambil menunggu kentang empuk, tumis bawang putih dan bawang bombay kemudian masukkan daging giling sampai berubah warna
3. Masukkan susu cair, telur dan keju. Masak hingga mendidih dan mengental
4. Siapkan wadah tahan panas. Potong kentang lalu susun dalam wadah tahan panas. Lalu tuangkan campuran daging giling tadi.
5. Panggang dalam oven 180 selama 20 menit.
Untuk 3 porsi

Selamat mencoba ya moms.

Belajar Menjadi Tidak Sempurna

Rumah berantakan, mainan berceceran, sisa makanan berjatuhan belum lagi tumpukan cucian piring yang menggunung atau tumpukan cucian baju yang harus dicuci dan disetrika.
Atau
Si kecil sedang senang belajar makan sendiri walau apa yang dimakan jauh lebih sedikit dari yang dibuang, coretan-coretan rasa ingin tahu anak di dinding rumah, sampul-sampul buku yang terkoyak saat si kecil ingin membaca buku.
Moms pasti pernah ya mengalami hal yang demikian dirumah dan dengan si kecil. Tapi itulah nikmatnya hidup ya moms, menemani perjalanan belajar si kecil yang luar biasa sambil terus beribadah mengurus rumah tangga :) Satu hal baru ni moms yang saya pelajari semenjak saya menjadi seorang ibu adalah belajar menjadi tidak sempurna. Berhubung saya OCD membuat saya menjadi orang yang perfeksionis. Segala sesuatu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar hasilnya sangaaaaaat maksimal (dan sangat rapih, sangat bersih, sangat terstruktur, sangat on-time).

Adanya kebiasaan itu harus saya buang jauh-jauh saat saya menjadi seorang ibu dan seorang full-time mom. Mempertahankan kebiasaan itu hanya akan buat saya stress sendiri. Awalnya susah memang ya tapi saya berusaha menerima batasan diri saya sendiri dan memaafkan diri saya. Saya selalu bilang pada diri saya sendiri "It's okay you're doing great. You don't have to do it all".

Saya yakin setiap moms pasti bisa menyelesaikan segala pekerjaan rumah sendiri sambil terus meluangkan waktu bermain dengan anak. Susah ya moms liat rumah berantakan sedikit maunya rapih aja tapi kalo kata iklan aja "berani kotor itu baik" mau gimana lagi ya ga? Hahhhahha

Maunya ya moms rumah bersih rapih tidak ada tumpukan cucian piring atau cucian baju atau baju yang harus disetrika. Tapi dalam pengerjaannya setiap hari tidak mungkin di lakukan sekaligus ada saja yang harus terhenti di tengah jalan karena si kecil mengajak main atau si kecil sedang manja. Belum lagi mainan si kecil yang berceceran atau tumpahan makanan kecil si kecil yang belum sempat dibersihkan sudah dimainkan lagi. Saya sendiri menyerah pada keadaan dan harus bisa kompromi dengan situasi yang ada. Jangan harap main kerumah saya siang-siang ruang tamu akan bersih mengkilap dan rapi yang ada hanya ceceran mainan dan buku-buku si kecil yang ada. Walau si kecil saya biasakan main di baby-box tapi sepertinya dia tidak bisa lihat sesuatu yang rapi (seperti mamanya :D), dulu saya sempat pusing tapi sekarang saya jauh lebih tidak peduli rumah berantakan karena saat malam dan si kecil sudah tidur saya bisa bersihkan dan rapihkan kembali.
IMG_4579-0.JPG
Si kecil sedang berbaik hati cuma sedikit yang berantakan
Perlu usaha dan kerelaan yang lebih memang ya tapi semua worth-it. Menjadi seorang ibu justru membuat saya menemukan saya-saya yang lain yang saya tidak pernah saya kira akan saya lakukan. Saya yang lebih sabar. Saya yang bisa menaklukan OCD saya. Saya yang tidak sempurna.

.Cheers.

Envy

 Yupe blabbing ga jelas dulu boleh kan ya. Today I wrote about envy. Envy of other people life. Seumur-umur walaupun suka lihat kehidupan orang lain yang lebih hijau dari saya ga pernah kepikiran sama sekali iri atau ada rasa iri walau sedikit. This might sound ridiculous but I envy my bestfriend life Edo that recently continue his study to Japan. He got scholarship from where he work. Adalah yang bikin iri dia bisa keluar negeri. Tinggal disana. Jauh dari kehidupan orang Indonesia yang kadang carut marut. Konyol emang kedengerannya dari sekian orang yang saya kenal saya cuma iri sama temen saya yang satu ini. Padahal banyak temen dan adik kelas saya yang lebih sering dan lebih lama sekolah ataupun kerja di luar negeri. I don't know but maybe because I really know him and how he struggle for it. I am proud but envy. 

Dari dulu saya selalu ingin keluar negeri. Tinggal dan besar dan ga pulang-pulang dimana saja selain Indonesia. Bukannya ga nasionalis tapi susah buat saya untuk tinggal disini. Mulai dari otoritas sampe hal orang Indonesia ga bisa buang sampah aja jadi masalah. I never feel like I belong here. I love walking yang ga mungkin banget bisa sering-sering di lakuin kalau musti balapan sama asap kendaraan. And the people, I think it's only me but I happen to meet people with narrow-minded one sedangkan saya sangat open-minded. Lots and lots things that make me never belong here. You will shock how open my mind is or to what extent my thought could wander. Tapi kenapa sih sampai sekarang saya ga pernah sekolah atau benar-benar tinggal di luar negeri. Saya pernah keluar negeri lho ya buat jalan-jalan aja. Jawabannya simpel sih ya saya merasa saya masih sangat dilindungi Allah SWT. Kenapa? Living overseas will make all my dark and dirty mind to happen. Pasti bingung kan pasti berandai-andai kan tapi justru cuma karena hal itu saya ga pernah berusaha tinggal di luar negeri. People get to live overseas because they have a purpose to do like maybe working studying and on well I on the other hand just want to have freedom. Freedom that I never get to have here.

Oooops, you got to know my dirty little secret. Nevermind. Well, If you like Japan or want to know how it feel to study in Japan you can check my buddy blog here http://nofriadiedo.blogspot.co.id/ and don't forget to say hi.

.Cheers.

Friday, October 9, 2015

Gagal Paham


Pergejolakan tentang stay-at-home moms sama working moms kayaknya ga pernah ada habisnya. Padahal kita sama lho sama-sama seorang ibu. Cuma kayaknya terlalu berlebihan aja ya kalo setiap orang ga bisa memahami pilihan yang diambil setiap ibu-ibu.

Saya sendiri a stay-at-home mom by a choice. Dari dulu sudah selalu berandai-andai menjadi ibu yang tinggal dirumah dan full ngurus anak alasannya karena saya sendiri inginnya seperti itu ditambah didukung keadaan yang tidak memungkinkan buat saya kerja. Saya ga ada orang yang bisa bantu saya nitipin anak jadi harus merasa beruntung ya yang ibu nya masih hidup bisa ikut bantu mengurus anak dan konsekuensi kalau saya bekerja saya punya banyak waktu dengan anak. Waktu itu saya kerja di Jakarta dan domisili di daerah sekitarnya yg mengharuskan saya setiap hari berangkat jam 6.30 pagi dan tiba dirumah 7.30 malam ga kebayang nitipin anak ke daycare atau art sampe jam segitu. Cuma kadang orang kan ga tau ya alasan kenapa kita memilih menjadi stay-at-home mom sama working mom.
Sempet kan ditanya kenapa ga kerja lagi. Terus dijawab karena ga mungkin lalu dilemparlah ke saya alasan cliche kalo sayang udah sekolah tinggi-tinggi ilmu nya ga dipake dan balik-balik ke dapur dan kalo kerja kan wawasan jadi luar dan bla bla bla. Somehow saya gagal paham pemikiran seperti ini. Hari gini wawasan bisa dipelajari dimana aja kapan aja dari mana aja dan dari siapa aja. Kalo seseorang itu wawasannya mandek itu balik lagi ke orangnya masing-masing kadang sekolah tinggi klo wawasannya sempit ditambah attitude yang buruk pelajaran sekolah itu berasa ga ada artinya.

Jadi stay-at-home mom bikin saya apresiasi kegigihan working moms. Mayoritas ibu-ibu kalo ditanya pastinya maunya dirumah aja karena bisa liat tumbuh kembang anak dan mengajarkan banyak hal kepada anak termasuk wawasan yang didapet waktu kuliah tinggi-tinggi iu ya. Cuma kadang keadaan seseorang berbeda dan itu ga bikin keadaan kita jauuuh lebih baik dari orang itu. Faktor finansial umumnya yang bikin ibu-ibu bekerja rela untuk meninggalkan anaknya dan diasuh oleh neneknya atau siapapun itu tapi apa itu mudah kan ga juga. Mereka punya mimpi untuk anak-anak mereka yang mungkin baru bisa terealisasi kalo mereka bekerja. Atau memang karena ibu tipe pekerja yang kalau dirumah jadi stress. Sah-sah aja. As long a mother and a wife happy that means happy life. 

Jadi kadang saya gagal paham kalo ada yang bilang sayang sekolah tinggi-tinggi jadi stay-at-home mom aja akan bikin wawasan mandek. Truth is ibu-ibu pintar ini yang sekolahnya tinggi-tinggi baik yang dirumah atau yang kerja ini yang nanti akan menghadirkan generasi-generasi selanjutnya yang lebih berkualitas. Atau mungkin yang berkata demikian tidak tahu bahwa perlu ilmu yang tinggi untuk mendidik anak yang berkualitas. Atau mungkin tidak pernah mendidik anak dengan ilmu. 

.Cheers.

Thursday, October 8, 2015

Motherhood: Menjadi Ibu yang Santai


Mungkin aneh kali ya jadi ibu baru yang baru punya anak pertama terus belum punya pengalaman apa-apa nyantai banget ngadepin hiruk pikuk perbayian. Tapi itu sayaaaa banget pemirsah. Hahhaha ga tau kenapa saya ga kena demam euphoria anak pertama yang semua serba harus ada serba harus the best serba dan serba. Dan parahnya lagi ga ada yang ngajarin. Ouch.

Kenapa bisa gitu ya? Ya, alhamdulillah nya punya pasangan yang juga sama santai nya ngadepin punya anak pertama. Yang lebih heboh biasanya orang luar biasa lah ya. Jadi dari masih hamil besar udah mulai baca-baca tentang mengurus bayi/anak di forum-forum dan blog dan alhamdulillah selalu dikasih jalan nemu aja bacaan para ibu yang mengurus anak 1,2,3,4,5 sendirian. Wuooooh karena kan ya saya juga ngurus anaknya bakal sendirian pas nemu bacaan gitu kayak punya temen senasib sepenanggungan. Dan sejak dua bulan sebelum melahirkan selalu mendoktrin diri sendiri "kamu bisa kamu bisa orang lain aja bisa masa kamu ga bisa" dan jeng jeng saya bisa sodaa-sodara. Cuma pas diawal ribet aja ya mandiin bayi kecil jadi sempet minta bantuan uwa yang juga suster. That's it.

Berbekal pengetahuan dan cerita ibu-ibu itu sampai sekarang saya cenderung jadi ibu yang santai ditambah mungkin saya ga ada bakat panikan ya. Jadi dari soal mpasi yang saya ga beli ini itu banyak-banyak karena ternyata memang ga kepake sampe tekstur makanan harus ini dan itu untuk bayi sampe banyak ga nya makanan yang dimakan anak saya ga pusing. Anak mau makan apa saya ga pusing cuma stress hahhaha stress karena musti putar otak ngasih makanan yang mana lagi. Anak mau makan bubur atau nasi terserah coba yah si kecil di umur 10 bulan ga mau bubur dan nasi tim maunya nasi yowes dikasihlah nasi. Anak mau makan banyak atau ga ya gapapa buat saya, kalo dia ga mau makan ya resikonya adalah lapar jadi hitung-hitung mengajarkan rasa lapar dan ga dikit-dikit dikasih makan supaya ga rewel dan kelaperan. Atau saat anak demam atau sakit saya bukan tipe ibu yang panikan dikit-dikit lari ke dokter atau panas dikit dikasih obat, nope. Cuma anak saya ini kalo sakit demam itu suka ga pake salam dulu langsung nyelonong ke suhu diatas 38,5 jadi ga ada tuh anget-anget 37an tau tau di 39. Paniknya karena doktrin suami karena dari keluarganya ada yang step padahal ga gitu langsung step juga dan step juga ada 2 macem. Dulu seringnya pake skin-to-skin sama di kasih asi yang banyak terus tunggu aja. Seringnya demam klo kata orang dulu 'demam mau pinter'. Sampe akhirnya anak kena fimosis itu karena saya terlalu nyantai pemirsah hahhaha dan bapaknya yang nyuruh ke dokter sedangkan saya santai-santai aja.

Sekarang pas si anak udah mulai besar jadi ibu yang santai itu makin lebih banyak enaknya. Karena klo ga santai stress man karena makin besar anak makin banyak aktivitas. Anak udah ga mau disuapin dan maunya makan sendiri yang berakibat pada indahnya lantai rumah penuh minyak. Maunya main kotor-kotoran main tanah main pasir main di rumput ga papa kan kata rinso kalo ga kotor ga belajar. Maunya mandi sendiri di kamar mandi dan udah ga mau duduk ga papa tapi sering saya ingatkan untuk pegangan. Mau makan makanan orang dewasa kayak sambel maicih yakult dll ya ga papa asal ga banyak-banyak. Mau kejedot karena ga sabar klo ngerangkak atau jalan ya ga papa. Semua serba ga papa karena buat saya dengan begitu saya mengajarkan konsekuensi dan mengajarkan rasa sama dia misalnya makan sambel ya akan kepedesan atau kejedot ya karena ga sabar atau giginya patah karena jatuh. Jadi nanti dia tau rasa lapar, sakit, pedas, manis, sedih, marah, senang dll.

But again being a mother is a lifetime learning so yeah I am learning.

.Cheers.

Motherhood: Parents' Love Mother's Love Whatever


Suka ga sih liat orang tua yang bahasa sundanya ga nyaah dulang (sayang tapi menjerumuskan)tapi ternyata nyaah dulang. Suka ga sih liat orang tua yang belain anaknya mati-matian padahal anaknya salah. Suka ga sih liat orang tua yang atas nama cinta memberikan semuanya buat anak. 

Yupe I guess that's the power of love. Tipis ya cinta yang bisa bikin seseorang jadi sukses sama jadi biasa aja. Baru satu tahun setengah jadi ibu perasaan cinta kayak gitu yang saya takutkan, sangat. Kenapa? Because I've witnessed the kind of scary love. Liat gimana saking cintanya orang tua sama anak, anaknya bikin kesalahan dibelaaaaa terus padahal ya anaknya yang bohong sama orang tuanya. Liat gimana saking cintanya orang tua sama anaknya, merasa anaknya yaaaang paling bener orang lain ga. Liat gimana saking cintanya orang tua sama anaknya bikin perlakuan ga adil ke pasangan hidup anaknya. Liat gimana saking cintanya orang tua sama anak dinenenin sama diketekin aja anakbya padahal udah punya keluarga sendiri. Yupe I've witnessed that. And the outcome of that kind of love. Scary.

So today, saya dihadapkan dengan kenyataan kalo anak saya mewarisi caranya marah saya. Yupe, I am ugly when it's come to angry. Jadi ceritanya si bocah lagi main sama temennya, a girl but she has dominance personality. Setiap main kerumah semua mainan bocah dimainin dan bocah ga bisa main mainan yang dia pengen. Sering saya bela supaya mainannya dikasih ke anak saya because it's him, ya know. Tapi lebih sering saya alihkan perhatian anak saya ke mainan yang lain yg tidak dimainkan. Saya mengajarkan dia untuk sesekali mengalah so it should be no problem, right? I always play with my kid so ketika si temennya ini liat bocah main sama mamanya diambil lah lagi mainannya. Intinya anak saya ga boleh main mainannya, wth? Tapi saya selalu coba ajak ngobrol anak saya supaya berbagi mainannya atau main bersama-sama. Maybe just maybe dia udah jengah ya jadi sekarang kalo mainannya main di rebut aja he's become physical. Jadi setiap ketemu anak itu bawaannya rambutnya dijambak, di cakar daaaaan akhirnya tadi mainannya kena lempar ke dan mukanya ( and I was like OMG!!!!!). I can't angry to my kids because it was unintentional. Happens out of defense karena mainannya mau diambil. Disini bikin saya mikir I was in denial. Denial of my kid fault. So yeah I admit what he did is wrong but she's wrong too. And they're kids. And mother's love is scary.

Padahal ya itu hal kecil, mengakui kalo anak sendri itu salah rasanya beraaaaat dan ga terima. Lebih berat lagi pas sadar kalo 'hey, anak lo mewarisi cara marah lo lho!' And I was like 'OUCH'. So I am worried of myself of my love for my kids of what it will make my kids.

But being a mother is a lifetime learning process. So yeah, I am learning.

.Cheers.